Wednesday, 16 January 2013

Our Minds!



Bismillahirrahmanirrahim. Pembuka bicara, Dia jugalah yang menganugerahkan insani untuk bisa berbicara dan berkata-kata. Assalamualaikum kepada semua pembaca yang dikasihi dan dirahmati.

Ketika diri terasa kekosongan, terasa sepi ada sesuatu yang hilang dan tidak lengkap di dalam diri. Aku cuba memikirkannya, namun aku masih tidak menemui jawapannya. Aku cuba memohon kepadaNya agar dapat menenangkan hatiku yang resah, fikiranku yang runsing. Alhamdulillah, ketenangan aku telah temui, namun masih ada sesuatu lagi yang masih belum selesai aku rasakan. Baru kini aku terfikir, minda aku! Ya, minda! Akal ku sudah lama tidak berjinak2 dengan bahan bacaan ilmiah, semenjak sesi peng'kuliah'an sudah tamat disebabkan oleh Final Exam. Namun, itu sebenarnya bukan menjadi suatu alasan. Entahlah, aku dapat merasakan bahawa mindaku sudah terlalu lama tidak diisi dengan bahan bacaan yang penuh ilmiah dan penuh input2 baru. 

Tazkirah? Ya, benar tazkirah, tazkirah sendiri bermaksud peringatan, iaitu 'memperingatkan' kembali apa yang kita sudah pelajari dan ketahui tetapi kita sudah melupakannya, itulah fungsi 'tazkirah'. Manakala ILMU baru pula, adalah sesuatu input baru yang perlu diisi untuk  makanan minda, kerana dia juga perlukan 'makanan'nya untuk ligat beroperasi dan berfungsi, jika kita tidak dapat memberikan minda kita 'makanan' yang sesuai terdapat effect yang memberi kesan kepadanya. Kesannya adalah minda pasti menjadi 'lembam dan lembap' lambat beroperasi, malas berfikir, tidak mahu berfikir 
sesuatu yang rumit, tidak mahu memikirkan solution bagi sesuatu problem yang ada, itulah tandanya minda kita sudah menjadi terlalu lemah dan malas.

Parah juga diri ini, kekurangan sumber ilmu yang baru, minda menjadi lembam. Itu suatu sifat yang negatif dan tidak membina diri langsung dan tidak membantu membentuk pemikiran yang matang dan minda tidak berkembang. Seriously, sikap sebegini terasa begitu sengsara, walaupun dalam masa beberapa minggu je meninggalkan alam kuliah. Sepatutnya, kita tidak boleh bergantung kepada sesi kuliah sahaja, tapi itulah realiti diri, yang bukannya bersifat 'ulat buku', sesuatu yang sukar untuk diubah. Tetapi perlu diubah untuk kebaikan diri.



Ilmu baru perlu dicari dan diisi dalam diri. Ilmu yang sedia ada perlu diperkuatkan dan perkukuhkan, itulah jalan yang terbaik. 

Memang benarlah, jika seseorang itu dahagakan ilmu, pasti dia berusaha mencari ilmu itu untuk menghilangkan dahaga itu. Ya!, aku ingin menjadi seorang yang akan menghilangkan dahaga itu. Oh Ilmu!   Bila budaya ilmu dan pembacaan tidak sebati dalam diri, beginilah jadinya ia akan memakan diri dan membantukan pemikiran insani.

" Pembinaan pemikiran yang baik seiring dengan tumbesaran yang sihat. Pemikiran yang intelek dan bijak pula seiring dengan kecerdasan akal. Kecerdasan itu berpunca dari mana sumber pembacaan itu diperolehi dan sumber bacaan apa yang dijadikan bacaan serta rujukan.. "

* It's all about knowledge, surrounding's influences, and informal or formal education that you learn and get since baby untill who we're now. Jika banyak bacaan yang mengarut, maka tumbesaran minda juga menjadi 'karut'. Jika banyak bacaan ilmiah yang menjadi rujukan dan bacaan maka tumbesaran minda menjadikan seseorang itu berfikiran matang dan terkehadapan..


* Peringatan untuk diri sendiri dan juga senasib denganku.



Hiasilah Diri dengan Keindahan Ilmu


Menghiasi diri dengan keindahan ilmu berupa bagusnya budi pekerti, bersikap tenang, berwibawa, khusus, tawadhu, dan senantiasa bersikap istiqamah secara lahir maupun batin, serta tidak melakukan segala yang bisa merusaknya.

Imam Ibnu Sirin berkata, "Dulu para ulama mempelajari budi pekerti sebagaimana mereka mempelajari ilmu." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Jaami' [9]).

Dari Raja' bin Haiwah, beliau berkata kepada seseorang, "Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits, tetapi jangan sampaikan hadits dari riwayat orang yang pura-pura mati, juga jangan dari orang yang suka mencela." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Jaami' [166] dan Al-'Uqaili dalam Adh-Dhu'afa' [I/12]). Kedua kisah ini diceritakan oleh Al-Khatib dalam kitab Al-Jami', lalu beliau berkata, "Wajib bagi penuntut ilmu hadits untuk menghindari suka bermain, berbuat yang sia-sia dan bersikap rendah dalam majelis ilmu serta tertawa terbahak-bahak, banyak membuat lelucon, suka senantiasa bersenda gurau. Senda gurau itu hanya diperbolehkan kalau dilakukan kadang-kadang saja asal tidak sampai melanggar adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Adapun kalau dilakukan secara terus-menerus, mengucapkan ucapan kotor, jorok, serta yang bisa menyakitkan hati, semua itu adalah perbuatan tercela. Sebab, banyak senda gurau dan tertawa akan menghilangkan kewibawaan dan harga diri." (Lihat Al-Jaami' oleh Al-Khathib [I/156]).

Ada sebuah pepatah: "Barang siapa yang banyak melakukan sesuatu, maka dia akan dikenal dengannya." Jauhilah segala perusak ilmu ini, baik dalam majelis maupun dalam setiap pembicaraanmu. Namun, sebagian orang-orang dungu menyangka bahwa bersikap longgar dalam seperti ini adalah sebuah sikap toleransi.

Dari Imam Al-Ahnaf bin Qais, ia berkata, "Jauhkanlah majelis kita dari menyebut-nyebut wanita dan makanan, saya benci seorang laki-laki yang suka membicarakan kemaluan dan perutnya." (Lihat Siyar A'laamin Nubalaa' [IV/94] dan Faidhul Qadir [I/537]).

Hal ini karena akan bisa mengalihkan perhatian dari menuntut ilmu, semacam kalau berkata, "Tadi malam saya makan sampai kekenyangan." Atau, ucapan sejenis yang tidak ada gunanya sama sekali. Juga berbicara seputar urusan wanita, terlebih lagi kalau ada yang membicarakan hubungan suami istri yang dilakukannya, maka orang semacam ini adalah sejelek-jelek manusia pada hari kiamat dalam pandangan Allah Ta'ala.

Umar bin Khatthab r.a. berkata dalam surat yang ditulisnya kepada Abu Musa al-Asy'ari tentang qadha': "Barang siapa yang menghiasi dirinya dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka Allah akan menampakkan keburukannya." (Riwayat Al-Baihaqi [21124], Daruquthni [IV/206], Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad [X/449], dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq [XXXII/71-72] dari Abu 'Awwam al-Bashri).

Apa pun akhlak yang terdapat pada diri seseorang, meskipun dia sembunyikan dari manusia, pasti akan ketahuan juga. Bagaimanapun usaha manusia untuk menyembunyikannya, Allah pasti mengetahuinya dan akan membongkar kedok orang yang beramal tidak ikhlash untuk-Nya. Maka, jadikanlah ucapan Umar ini untuk menimbang seluruh aktivitimu.

Sumber : halaqah


- ... Kita yang mencorakkannya... - 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...